Sabtu, 25 Februari 2012

PENGERTIAN SEJARAH

A. Asal-usul Kata Sejarah

Manusia dikenal sebagai zoon historicon, artinya manusia adalah makhluk yang senantiasa membuat sejarah, memiliki dan menjadi pelaku sejarah. Kata sejarah berasal dari kata bahasa Arab, syajaratun, artinya pohon. Arti kata ini kemudian berkembang menajdi keturunan, asal-usul, riwayat, atau silsilah. Dalam bahasa Inggris dikenal kata history, yang berasal dari kata Latin istoria, dapat diartikan terjadi, atau orang pandai/bijak. Dalam bahasa Jerman terdapat istilah geschichte, yang artinya sesuatu yang telah terjadi.
Masa lampau merupakan unsur yang sangat penting dalam sejarah dan konteks waktu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam kenyataan, masa lampau selalu mengikuti dan melekat pada setiap aktivitas manusia di masa kini. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, langsung atau tidak langsung, masa lampau senantiasa menjadi memory yang akan memberikan pengalaman, pembelajaran, kesan dan peringatan bagi manusia dalam bersikap dan beraktivitas di masa kini dan mendatang.

B. Sejarah Sebagai Peristiwa (disebut juga Sejarah Objektif)

Dalam pengertian sebagai sebuah peristiwa, sejarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.Peristiwa sejarah tidak dapat diketahui, karena menyangkut peristiwa yang sebenarnya (yaitu peristiwa yang telah lalu)
2.Peristiwa sejarah bersifat unik (tidak ada kembarannya)
3.Peristiwa sejarah hanya sekali terjadi (einmalig = sekali terjadi), tidak mungkin dapat diulang atau terulang kembali. Ibarat sebuah anak panah yang apabila telah terlepas dari busurnya, ia tidak akan kembali lagi. Sekali peristiwa itu terjadi, maka sesaat kemudian ia akan menjadi masa lalu.
Sebuah peristiwa, tidak dapat diulang kembali dengan tokoh, tempat, dan suasana yang sama dengan saat pertama kali terjadi. Yang ada hanyalah kemiripan dalam hal peristiwanya, karena tokoh, tempat, dan suasananya tentu lain sama sekali, dengan kata lain tidak mungkin sama dengan peristiwa yang saat pertama kali terjadi.

C.Sejarah sebagai Kisah (disebut juga Sejarah Subjektif)

Dalam pengertian sebagai kisah, sejarah yang dimaksud bukan menyangkut peristiwa yang sebenarnya. Akan tetapi berupa sebuah kisah atau rekaman tentang peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Sebagai kisah, sejarah dapat didefinisikan sebagai hasil penggambaran tentang peristiwa (kenyataan/aktualitas) di masa lampau. Kenyataan itu tentunya telah hilang/lenyap, yang dihidupkan kembali sebagai suatu kisah/cerita.

D.Sejarah sebagai Ilmu

Sebagai ilmu, sejarah memiliki beberapa ciri sesuai dengan persyaratan atau kaidah-kaidah yang terdapat dalam suatu ilmu pengetahuan. Sejarah sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.Memiliki objek kajian, yaitu peristiwa/aktivitas manusia di masa lampau.
2.Memiliki teori, yaitu berupa pernyataan untuk memberikan penjelasan tentang kapan suatu peristiwa itu terjadi.
3.Memiliki metode ilmiah. Suatu pernyataan (teori) dalam sejarah harus didukung oleh adanya bukti-bukti sejarah. Untuk mendapatkan dan menemukan bukti-bukti tersebut diperlukan penelitian. Penelitian sejarah dilakukan dengan menggunakan metode, yang disebut dengan metode sejarah (histories method) meliputi empat langkah yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.
4.Memiliki formulasi kebenaran yang bersifat umum. Untuk menyusun suatu kisah diperlukan analisis data secara ilmiah, untuk mendapatkan kebenaran atau peristiwa yang ditampilkan mendekati seperti peristiwa yang sebenarnya. Kebenaran itu dibuktikan dengan suatu seri dokumen yang telah diuji sedemikian saksama akan otentisitasnya dan kredibilitasnya, sehingga diperoleh suatu fakta, atau lebih tepat satu rangkaian fakta, sebelum diketemukan dokumen yang lebih otentik dan lebih dapat dipercaya yang menyangsikan peristiwa tersebut.

E.Sejarah sebagai Seni

Dalam pengertian sejarah sebagai seni, merupakan serangkaian cara kerja sejarawan dalam rangka historiografi (penyajian sejarah). Dalam historiografi memerlukan hal-hal sebagai berikut:
1.Intuisi, pemahaman instingtif ketika masa penelitian sejarah berlangsung
2.Imajinasi. Imajinasi seorang sejarawan berbeda dengan imajinasi sastrawan. Dalam berimajinasi tidak bisa berimajinasis secara liar tanpa pijakan yang jelas, tetapi harus tetap berdasar pada data sejarah.
3.Emosi. Tulisan sejarah yang dihasilkan harus dapat membuat orang yang membacanya seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa yang dikisahkan. Oleh karena itu, seorang sejarawan harus dapat ber-empati, yaitu menyatukan perasaan dengan objeknya.
4.Dalam historiografi haruslah menggunakan gaya bahasa yang lugas, menarik, tidak berbelit-belit, dan sistematis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar